1 SPKLU untuk 47 Kendaraan Pribadi Listrik di Jakarta, Charge Anxiety Meningkat untuk Pengguna EV

loading…

Drama patok-patokan slot cas yang bikin geleng kepala. Foto: Sindonews/Danang Arradian

JAKARTA – Ada cerita viral di media sosial. Seseorang Ingin ngecas mobilnya. SPKLU kosong. Ia langsung parkir. Eh, ada orang ngetok kaca bilang: “Saya Sebelumnya ngantri dari dua jam lalu.” Tapi mobilnya di mana? “Masih di atas. Ingin turun ke sini.”

Ternyata beli Kendaraan Pribadi listrik tidak Setiap Waktu berarti bebas masalah. Masalah lama, antre bensin, berganti masalah baru: antre cas. Dan Trik antrinyapun bisa sama tidak beradabnya.

Di SPBU kita antre dengan Kendaraan Pribadi. Di SPKLU, kita antre dengan badan.

Ini bukan drama kecil. Ini cerminan masalah besar yang kian tidak bisa diabaikan: infrastruktur pengisian Mobil Listrik Indonesia ketinggalan jauh dari pertumbuhan penggunanya. Lihat datanya.

Akhir 2025, PLN bersama mitra mengoperasikan 4.655 unit SPKLU di 3.007 Tempat di seluruh Indonesia. Naik 44 persen dibanding 2024. Kelihatan Unggul.

Tapi populasi Kendaraan Pribadi listrik roda empat per Februari 2026 Sebelumnya menyentuh 119.000 unit. Artinya: satu SPKLU untuk Menyediakan 29 Kendaraan Pribadi listrik. Rasio 1:29. Jauh dari ideal.

Berapa yang ideal? Gaikindo menyebut angka 1:10. Konsumen menginginkan 1:5. Sedangkan pemerintah sendiri, dalam target yang Sebelumnya diturunkan, baru mematok 1:17.

Bahkan target 1:17 itu pun tidak tercapai. PLN menargetkan 5.810 SPKLU di 2025 untuk mencapai rasio itu. Realisasinya? Hanya 4.655 unit. Meleset lebih dari 1.150 unit.

Jakarta: Paling Parah

Yang lebih memprihatinkan: distribusinya sangat tidak merata. Jakarta Merupakan yang paling suram. Rasio SPKLU di DKI mencapai 1:47, satu charger untuk 47 Kendaraan Pribadi listrik. Banten 1:27. Jabar 1:18.

Per Maret 2026, 73,9 persen atau 3.629 unit dari total 4.911 SPKLU nasional berada di Pulau Jawa. Sumatera 555 unit. Bali-Nusa 283 unit. Kalimantan 226 unit. Sulawesi 162 unit. Papua-Maluku hanya 56 unit.

Jakarta Merupakan kota dengan pengguna EV paling banyak. Tapi justru rasio SPKLU-nya paling buruk di antara kota-kota besar. Ironis.

Masalah Bukan Hanya Jumlah, Tapi Kecepatan

Dari total 4.655 SPKLU yang ada, komposisi teknologinya Bahkan belum menggembirakan. Yang Ultra Fast Charging (di atas 50 kW) baru 633 unit. Fast Charging 482 unit. Yang mendominasi justru Medium Charging (7-22 kW) sebanyak 2.681 unit.
Standard Charging (di bawah 7 kW) sebanyak 859 unit.

Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA

Exit mobile version