Gorengan menjadi salah satu camilan yang sulit dilewatkan. Tempe, tahu, bakwan, Sampai sekarang pisang goreng kerap tersedia di rumah karena Tips membuatnya cukup mudah.
Memasak sendiri Bahkan sering dianggap lebih sehat dibandingkan membeli gorengan di luar. Minyak bisa dipilih sendiri, bahan makanan dapat dicuci dan diolah dengan lebih terkontrol, termasuk memastikan minyak tidak digunakan berkali-kali.
Sekalipun, apakah gorengan yang dibuat di rumah Sungguh-sungguh lebih sehat?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Spesialis Gizi Klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK mengatakan gorengan rumahan memang memiliki kelebihan dari sisi higienitas. Saat memasak sendiri, penggunaan minyak dapat lebih mudah dikontrol, termasuk memastikan minyak diganti ketika Sebelumnya tidak layak digunakan.
“Kalau secara higienitas, ya lebih higienis. Karena kalau kita beli di luar, kita tidak tahu minyaknya Sebelumnya digoreng berkali-kali atau tidak. Kalau di rumah, kita tahu minyaknya Sebelumnya Dianjurkan diganti atau belum,” kata dr Yaze.
Gorengan Rumahan Belum Tidak mungkin tidak Lebih Sehat
Selain minyak, jumlah bahan yang digunakan dan porsi gorengan Bahkan lebih mudah dikendalikan ketika memasak sendiri. Sekalipun, kondisi tersebut tidak otomatis membuat gorengan menjadi makanan sehat.
“Kalau dibilang lebih higienis, iya. Tapi kalau lebih sehat atau enggak, ya bukan berarti gorengan homemade itu lebih sehat,” jelas dr Yaze.
Menurutnya, jumlah gorengan yang dikonsumsi tetap Wajib diperhatikan. Gorengan yang dibuat sendiri tetap mengandung minyak sehingga porsinya Wajib disesuaikan dengan kebutuhan makan sehari-hari.
“Jadi bukan berarti ini digoreng di rumah jadi sehat. Tetap saja, misalnya sehari bisa lima, tetap porsinya mulai kita kurangi,” ujar dr Yaze.
Kurangi Porsi Bertahap
Kebiasaan makan gorengan setiap hari Bahkan sebaiknya mulai dikurangi secara bertahap. Bila biasanya dalam sekali makan mengonsumsi lima gorengan, jumlah tersebut dapat dikurangi menjadi dua atau tiga buah.
“Misalnya hampir setiap hari makan gorengan, berarti seminggu itu tiga kali saja. Misalnya setiap kali makan gorengan biasa lima, Di waktu ini berarti dua saja,” kata dr Yaze.
Pengurangan secara bertahap pun lebih realistis untuk membangun pola makan yang bisa dipertahankan. Menghilangkan gorengan dalam kebiasaan makan secara tiba-tiba Bahkan dapat membuat keinginan terhadap makanan gurih dan renyah semakin kuat.
dr Yaze sebelumnya menyarankan pengurangan porsi dan frekuensi dilakukan perlahan Supaya bisa tubuh lebih mudah beradaptasi. Kebiasaan makan gorengan yang semula hampir setiap hari dapat diturunkan menjadi dua Sampai sekarang tiga kali dalam seminggu.
Ganti Tips Memasak
Saat keinginan makan gorengan muncul, Tips pengolahan makanan Bahkan dapat diubah. Air fryer dapat digunakan untuk mendapatkan tekstur renyah dengan minyak yang lebih sedikit.
“Misalnya kayak di air fryer, jadi tetap crunchy, tapi Mungkin minyaknya lebih minim. Atau lebih bagus lagi misalnya dipanggang. Bagus lagi kalau misalnya dikukus,” ujar dr Yaze.
Tips tersebut dapat menjadi pilihan ketika tetap ingin menikmati tekstur renyah tanpa menggunakan minyak sebanyak metode menggoreng.
Batasi Porsi dan Frekuensi
Bahan baku gorengan Merupakan tepung. Ketika makanan berbahan tepung digoreng, asupan karbohidrat dan lemak dapat menjadi cukup tinggi. Konsumsi dalam jumlah banyak dapat membuat asupan kalori harian meningkat.
dr Yaze menjelaskan makanan bertepung dan gorengan tetap boleh dikonsumsi, tetapi porsi dan frekuensinya Wajib diperhatikan.
Karena itu, gorengan rumahan tetap dapat masuk dalam pola makan. Memasak sendiri Menyediakan keuntungan dari sisi higiene serta membuat penggunaan minyak dan porsi lebih mudah dikontrol. Sekalipun, label ‘homemade’ bukan alasan untuk mengonsumsi gorengan tanpa batas.
“Jadi enggak bisa dibilang sehat Bahkan ya. Tapi kalau secara higiene, ya oke lah,” pungkas dr Yaze.
Halaman 2 dari 2
Simak Video “Video: Punya Genetik ‘High Risk Obesity’? Kenali Tips Menekan Risikonya“
[Gambas:Video 20detik]
(mal/up)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











