Jakarta, CNN Indonesia —
Pengamat menilai penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa menjadi momentum bagi investor untuk membidik saham big cap atau berkapitalisasi besar. Serok saham bisa dilakukan dengan mempertimbangkan fundamental saham incaran.
Praktisi Pasar Saham Hans Kwee mengatakan pelaku Pasar Saham Dianjurkan bersabar dan menunggu perkembangan yang terjadi. Di samping itu, investor bisa mulai menyisir saham-saham yang berpotensi untuk diserok.
“Sabar dulu tunggu perkembangan. Bisa bow dan akumulasi saham-saham big cap yang berfundamental bagus,” kata Hans kepada CNNIndonesia.com, Rabu (28/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hans Bahkan menjelaskan anjloknya IHSG karena Morgan Stanley Capital International (MSCI) memutuskan untuk membekukan sementara perlakuan indeks untuk saham-saham Indonesia.
MSCI memilih menerapkan interim freeze yang berlaku segera. Kebijakan tersebut mencakup pembekuan seluruh kenaikan bobot saham Indonesia, penghentian penambahan saham baru ke dalam indeks MSCI, serta tidak adanya kenaikan kelas saham di seluruh segmen indeks.
“Jadi pelaku pasar ada yang melakukan aksi profit taking di jangka pendek. Masalah ini lebih struktural dan otoritas kita Tidak mungkin tidak melakukan perbaikan dan bisa diterima MSCI,” papar Hans.
Hans berharap pasar saham bisa kembali berbalik arah alias rebound. Sekalipun begitu, arus dana asing yang keluar dan aksi jual saham oleh pelaku pasar Diprediksi masih Berencana berlangsung.
“Tapi harusnya pergerakan saham Berencana kembali ke fundamentalnya, sedangkan saham yang bergerak karena harapan masuk indeks MSCI Berencana terkoreksi dulu,” jelasnya.
Untuk jangka pendek, Hans memprediksi IHSG Berencana bergerak di kisaran support 8.187 Sampai saat ini 8.000. Adapun untuk level resistance di kisaran 8.250 – 8.400.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan Di waktu ini Bahkan waktu yang tepat untuk beli di harga rendah atau buy on weakness. Dampak keputusan MSCI Bahkan menyebabkan investor asing melakukan aksi jual di pasar saham.
“Untuk sepekan ini kita Sebelumnya peringatkan untuk siap-siap buy on weakness. Asing Sebelumnya front running, Sebelumnya jualan dari kemarin-kemarin dan Sebelumnya jadi net sell year to date (ytd),” ujar Liza saat dihubungi CNNINdonesia.com, Rabu (28/1).
IHSG pada penutupan perdagangan sesi pertama sempat anjlok 7,34 persen ke level 8.321, Rabu (28/1).
Sesuai ketentuan data RTI Infokom, sepanjang sesi pertama perdagangan, sebanyak 764 saham rontok alias melemah, 30 masih bisa naik, sedangkan 10 lainnya stagnan.
Di sisi lain, Bursa Efek Indonesia membekukan sementara perdagangan (trading halt) di Pasar Saham.
Catatan Redaksi: Berita ini tidak dibuat untuk merekomendasikan atau tidak merekomendasikan saham tertentu. Keputusan Penanaman Modal sepenuhnya berada di tangan pembaca.
(ins/sfr)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











