Jakarta, CNN Indonesia —
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia acap melakukan kesalahan. Ini merupakan hal wajar, asal kita kemudian menyadarinya dan bertobat. Meskipun demikian demikian Jangan coba-coba meremehkan dosa kecil.
Dalam makalah Syekh Nawawi al-Bantani, disebutkan janganlah menghitung atau menganggap dosa sebagai sesuatu yang kecil. Hal ini karena dosa kecil bisa bercabang-cabang lalu mengakibatkan munculnya dosa besar. Terkadang, dosa kecil Bahkan bisa memunculkan kemurkaan Allah SWT.
“Memang ada dosa kecil, ada dosa besar, tapi itu dikaitkan dengan kemaslahatan dan kemafsadatan atau kerusakan, keburukan dalam kaitannya dengan kehidupan manusia,” ujar ulama sekaligus Wakil Kepala Negara ke-13 RI Ma’ruf Amin dalam program Kultum Kemuliaan Ramadan 2026 CNNIndonesia pada Jumat (27/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut Ma’ruf menjelaskan, dampak kerusakan dari suatu dosa di dunia bisa kecil atau besar. Itulah mengapa ada istilah dosa kecil dan dosa besar.
Meskipun demikian demikian Bila dilihat dari sisi perintah Allah, Pada dasarnya dosa tidak memiliki ukuran. Semua dosa sama di hadapan-Nya.
Allah SWT memiliki hak untuk ditaati dan tidak dimaksiati oleh hamba-Nya. Oleh karena itu, kita tidak boleh menganggap remeh dosa kecil, meski tampaknya tak berdampak besar bagi kehidupan.
“Tidak ada dosa besar yang lebih besar setelah kufur atau kafir kepada Allah, syirik kepada Allah, [dan] menganggap remeh hak Allah. Menaati Allah itu haknya Allah, yang menjadi kewajiban hamba-Nya,” tutur Ma’ruf.
Ma’ruf mencontohkan dosa kecil melalui sebuah riwayat di zaman Rasulullah SAW. Ada seseorang yang makan dengan tangan kiri. Ketika itu Rasulullah memintanya untuk makan dengan tangan kanan.
Orang tersebut menolak, ia tak Ingin melakukannya. Rasulullah mendoakan, mudah-mudahan tangan kanannya tak bisa digunakan. Pada Pada intinya, orang tersebut betul-betul tidak bisa mengangkat tangan kanannya akibat ketakaburannya.
“Karena Ia menganggap remeh perintah Allah untuk makan dengan tangan kanan, Pada Pada intinya mendapat murka Allah SWT,” ucap Ma’ruf.
Kisah lain menunjukkan hal Tidak seperti, Dikenal sebagai kisah Bisyr al-Hafi. Pada Dahulu kala, ia seorang berandalan yang Sudah banyak melakukan maksiat.
Hidupnya berubah ketika ia menyelamatkan secarik kertas bertuliskan nama Allah yang diinjak-injak orang. Ia membeli minyak wangi, mewangikan kertas itu, kemudian menaruhnya di atas pagar dan memberinya penghormatan.
Pada suatu malam, terdengar suara yang berkata bahwa Bisyr Akan segera diharumkan namanya di dunia dan akhirat karena Sudah mengagungkan serta mengharumkan nama Allah.
Hal ini membuat Bisyr al-Hafi jadi bertobat. Semenjak itu ia terus bertobat Sampai saat ini Sama sekali tidak terjadi lagi memakai alas kaki. Itulah mengapa ia dinamakan Bisyr al-Hafi, alias “Bisyr yang tidak pakai alas kaki.”
Melalui Sebanyaknya contoh kisah ini, Ma’ruf mengatakan bahwa dosa kecil Pada dasarnya bisa dihapus dengan kebaikan-kebaikan.
“Tapi kalau Ia atas dasar kesombongan meremehkan perintah Allah, Ia berubah menjadi dosa besar. Karena dosa paling besar Merupakan meremehkan perintah Allah,” kata Ma’ruf.
Ma’ruf berpesan, semoga kita bisa menghindari dosa sekecil apa pun. Hal ini demi menjaga kehormatan dan penghormatan kita kepada Allah SWT. Karena menaati Allah dan tidak maksiat kepada-Nya merupakan hak kita sebagai manusia.
(rti)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











