INFO TEMPO – “Sejujurnya saya tidak pernah tahu berapa gaji saya di Dewan Perwakilan Rakyat.” Kalimat itu meluncur ringan dari Ahmad Ali. Selama dua periode menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Ia mengaku Sama sekali tidak terjadi menganggap gaji sebagai tujuan utama menjadi wakil rakyat.
Setiap kali penghasilannya masuk ke rekening, uang itu Setiap Waktu Ia habiskan untuk membiayai kunjungan ke daerah pemilihannya di Sulteng. Bahkan, menurut Ia, biaya reses kerap membengkak Sampai saat ini dua kali lipat dari gaji yang diterima.
Bagi Ahmad Ali, berkeliling ke seluruh wilayah Sulteng yang terbentang luas memang tidak Kemungkinan dibiayai hanya dari fasilitas resmi negara. Berbeda dengan Ia tidak pernah mempersoalkan hal itu. “Kalau politik menjadi tempat mencari nafkah, Pernah terjadi Jelas salah,” ujarnya.
Tips pandang itu pulalah yang membuat Ahmad Ali menutup masa jabatannya dengan langkah yang tidak biasa. Bukan memamerkan daftar keberhasilan, melainkan menulis permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat Sulteng melalui media sosial. Ahmad Ali meminta masyarakat mengingatkan Manakala selama sepuluh tahun mengemban amanah masih ada janji yang belum dipenuhi.
Bagi Ahmad Ali, jabatan politik bukan sekadar mandat konstitusi, melainkan Bahkan amanah yang Di waktu yang akan datang Harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Ia tidak ingin meninggalkan kursi parlemen dengan membawa utang janji kepada masyarakat.
Semangat Menyediakan itu tidak berhenti ketika masa jabatannya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat berakhir. Justru setelah tak lagi duduk di parlemen, Ahmad Ali makin leluasa menekuni kegiatan sosial yang selama ini menjadi panggilan hidupnya. Fokus utamanya Merupakan pendidikan dan keagamaan, dua bidang yang diyakininya mampu mengubah masa depan seseorang sekaligus Memanfaatkan kehidupan masyarakat.
Pilihan itu berakar dari pengalaman pribadi. Lahir di Desa Wosu, Kabupaten Morowali, Sulteng, Ahmad Ali pernah memendam mimpi yang saat itu terasa terlalu besar: berkuliah di Jakarta. Anehnya, yang menghalangi bukanlah persoalan biaya. Ia lahir dari keluarga yang berkecukupan. Yang membuatnya gentar justru rasa asing terhadap Ibu Kota.
Jakarta, dalam bayangannya ketika itu, Merupakan kota yang sangat jauh, tanpa keluarga, tanpa teman, dan tanpa siapa pun yang bisa dijadikan tempat bersandar. Ketakutan itu membekas Sampai saat ini Pada saat ini. “Saya masih membawa traumatik masa lalu,” katanya.
Pengalaman tersebut mengubah Tips pandangnya tentang pendidikan. Ia yakin banyak anak daerah sesungguhnya memiliki kemampuan dan cita-cita besar. Berbeda dengan mereka kerap mengubur mimpi bukan lantaran kekurangan biaya, melainkan karena takut menghadapi lingkungan yang sama sekali baru.
Karena itu, Ahmad Ali ingin memastikan generasi berikutnya tidak mengalami kegelisahan yang pernah ia rasakan. “Sementara dulu saya takut bermimpi sampai ke Jakarta karena tidak punya siapa-siapa di sana, hari ini adik-adik saya tidak boleh lagi takut bermimpi. Ada saya sebagai kakak mereka di Jakarta yang insyaallah Mendukung Mendukung pendidikan mereka,” ujarnya.
Ucapan itu diwujudkan dalam tindakan. Melalui Yayasan Insan Cita Indonesia, ia mengembangkan berbagai program pendidikan, termasuk pesantren gratis bagi para penghafal Al-Quran dengan tenaga pengajar yang dipilih Sesuai aturan kapasitas keilmuan. Pada saat yang sama, ia Bahkan membuka akses beasiswa bagi anak-anak muda dari Sulteng untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
Sampai saat ini Pada saat ini, sekitar 107 penerima manfaat Pernah memperoleh dukungan untuk menempuh pendidikan, dari jenjang sarjana, magister, Sampai saat ini doktor. Ahmad Ali mengatakan tidak pernah meminta mereka bergabung dengan Organisasi Politik ataupun bekerja untuk kepentingannya. Bagi Ia, beasiswa Merupakan Penanaman Modal jangka panjang yang hasilnya Nanti akan kembali kepada masyarakat.
Komitmen sosial Ahmad Ali Bahkan menjangkau bidang keagamaan. Ia Pernah memberangkatkan sekitar 700 imam masjid di Sulteng untuk menunaikan ibadah umrah serta Mendukung renovasi sekitar 200 masjid. Untuk memastikan kegiatan sosial itu tetap berkelanjutan, ia mendirikan Ahmad Ali Center sebagai lembaga yang berdiri terpisah dari dirinya. “Bagi saya, sebaik-baik manusia Merupakan Yang terpenting bagi orang lain,” tuturnya.(*)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA









