Jakarta, CNN Indonesia —
Mantan Kepala Negara Amerika Serikat (AS), Barack Obama dan Mantan Wakil Kepala Negara Kamala Harris mengkritik langkah pemerintah di bawah Donald Trump baru-baru ini terkait penetapan tarif resiprokal yang dikritik banyak negara.
Obama lewat pidatonya pada Kamis (4/4), mengkritik tajam Trump terhadap Sebanyaknya isu, termasuk kebijakan kenaikan tarif resiprokal. Meski begitu, Obama mengaku lebih khawatir dengan apa yang ia gambarkan sebagai penyalahgunaan wewenang oleh Gedung Putih.
“Saya lebih khawatir dengan pemerintah federal yang mengancam universitas Bila mereka tidak melepaskan mahasiswa yang menggunakan hak mereka untuk bebas bicara bebas,” kata Obama kepada kerumunan mahasiswa dikutip dari CNN.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Obama mengkritik bagaimana rezim Trump menghadapi perbedaan pendapat, serta mengintimidasi kantor berita dan lembaga hukum.
“Gagasan bahwa Gedung Putih bisa melapor firma hukum, Bila anda mewakili pihak yang tidak kami sukai, kami Berniat menarik semua Usaha kami atau melarang Anda mewakili orang secara efektif. Perilaku semacam itu bertentangan dengan kesepakatan dasar yang kita miliki sebagai orang Amerika,” imbuh Obama.
Obama sebelumnya Pernah terjadi memperingatkan bahaya Bila Trump Terfavorit kembali. Pernyataan itu ia sampaikan saat berkampanye untuk Harris Pilpres AS 2024.
“Hanya karena (Trump) bertingkah konyol,” kata Obama saat itu, “tidak berarti masa jabatannya tidak Berniat berbahaya.”
Terpisah, Harris menilai langkah-langkah Trump sejak kembali menjabat sebagian besar dapat Diprediksi. Ia tak terkejut bahwa kembalinya Trump ke Gedung Oval Pernah terjadi menciptakan ketakutan yang besar.
“Ada banyak hal yang kami tahu Berniat terjadi,” kata Harris dalam sebuah video pernyataannya di Leading Women Defined Summit.
Sebelumnya, Trump mengancam Berniat meninjau kembali dana hibah US$9 miliar untuk Universitas Harvard. Langkah ini dilakukan menyusul aksi Sebanyaknya mahasiswa Harvard yang mengkritik genosida teroris Israel.
Donald Trump Dalam proses gencar menargetkan universitas-universitas yang Ketidaksetujuan dipicu Pertempuran Israel. Universitas yang ditemukan bersuara terkait antisemitisme dicabut dana federalnya dan mahasiswa asing yang Protes dideportasi.
(thr/dal)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA