Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Indonesia menyebabkan kabut asap menyebar Sampai sekarang ke Sebanyaknya negara tetangga, termasuk Malaysia. Kondisi ini berdampak pada kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Sebanyaknya dokter umum di klinik swasta Malaysia bahkan melaporkan peningkatan pasien yang membutuhkan terapi nebulisasi akibat gangguan pernapasan.
Dikutip dari The Star, Sekretaris Jenderal Federation of Private Medical Practitioners’ Associations Malaysia, dr Eugene Chooi, mengatakan lebih banyak pasien mengalami batuk, iritasi tenggorokan dan mata, hidung tersumbat atau berair, mengi, Sampai sekarang perburukan asma selama periode kualitas udara yang buruk.
“Beberapa klinik Bahkan melihat peningkatan jumlah pasien yang membutuhkan Terapi bronkodilator atau nebulisasi, terutama mereka yang mengalami bronkospasme signifikan,” kata Chooi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pemberian nebulisasi Dianjurkan didasarkan pada hasil pemeriksaan klinis. Banyak kasus dengan gejala lebih ringan dapat ditangani secara efektif menggunakan inhaler salbutamol yang dilengkapi spacer, Didefinisikan sebagai alat bantu untuk menyalurkan Medis dari inhaler ke saluran pernapasan.
Chooi menjelaskan kabut asap tidak secara langsung menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas akibat virus. Justru, udara yang tercemar dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memperburuk penyakit pernapasan yang Pernah terjadi ada.
Ia mengimbau Supaya bisa tidak menunggu Sampai sekarang mengalami kesulitan bernapas untuk mencari pertolongan medis.
“Pantau indeks pencemaran udara, kurangi aktivitas di luar ruangan yang tidak diperlukan ketika kualitas udara tidak sehat, gunakan masker N95 yang terpasang dengan baik Seandainya paparan di luar ruangan dalam waktu lama tidak dapat dihindari, serta pastikan inhaler dan Medis-obatan rutin tersedia,” ujarnya.
Chooi Bahkan mengingatkan masyarakat Supaya bisa segera mencari pertolongan medis Seandainya mengalami mengi yang terus-menerus, sesak napas yang memburuk, dada terasa sesak atau nyeri, kesulitan berbicara dengan nyaman, atau inhaler pereda yang biasa digunakan tidak lagi efektif.
Sebagai dokter keluarga, ia mengatakan tenaga medis dapat menangani perburukan kondisi pernapasan ketika terjadi. Justru, upaya pencegahan tetap lebih baik untuk menghindari masalah kesehatan yang lebih serius, terutama pada anak-anak, orang lanjut usia, dan kelompok rentan lainnya.
Sementara itu, mantan Pemimpin Negara Medical Practitioners Coalition Association of Malaysia, dr Raj Kumar Maharajah, mengatakan terjadi peningkatan sekitar 20 persen pada pasien yang melaporkan gangguan kesehatan akibat kabut asap.
“Banyak pasien melaporkan mengalami gangguan pernapasan dan iritasi kulit. Terlihat jelas adanya peningkatan jumlah pasien. Asma pada pasien yang memang memiliki kondisi tersebut semakin memburuk Sampai sekarang membutuhkan nebulisasi,” ujarnya.
Seorang dokter umum di klinik swasta yang hanya ingin disebut sebagai dr Lim Bahkan melaporkan peningkatan pasien asma yang membutuhkan terapi nebulisasi di kliniknya.
Ia mengatakan kliniknya Pada saat ini menerima rata-rata 10 pasien asma setiap hari untuk menjalani nebulisasi. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi biasanya, ketika ia hanya menerima satu atau dua pasien sehari, bahkan terkadang tidak ada pasien sama sekali.
“Jumlah itu cukup tinggi karena biasanya saya hanya menerima satu atau dua pasien sehari, bahkan ada hari-hari ketika tidak ada pasien sama sekali. Kabut asap Sudah memperburuk serangan asma pada banyak pasien,” kata dr Lim.
Peningkatan permintaan Bahkan terjadi di apotek komunitas. Pemimpin Negara Malaysian Community Pharmacy Guild (MCPG), Sarah Abdullah, mengatakan masyarakat semakin banyak mencari masker untuk melindungi diri dari paparan polusi udara.
“Pasien meminta masker N95 dan KN95. Permintaan Medis tetes mata Bahkan meningkat,” ujarnya.
Halaman 2 dari 2
(suc/suc)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA
