Sport massage. (Foto: Freepik)
KASUS dugaan pelecehan seksual yang melibatkan seorang terapis Gerakan terhadap pelari perempuan menjadi perbincangan di media sosial. Peristiwa tersebut menyita perhatian publik setelah seorang pelari diduga mengalami tindakan tidak pantas saat menjalani prosedur perawatan otot di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta.
Ironisnya, dugaan pelecehan tersebut disebut terjadi di ruang terbuka. Tepatnya, hal itu terjadi di kawasan Aquatic GBK.
Merujuk pada informasi yang beredar, terapis Gerakan tersebut diduga menyentuh bagian dada korban secara berulang kali dengan alasan melakukan prosedur pemulihan atau perawatan tubuh. Tindakan yang diduga dilakukan dengan dalih profesional tersebut membuat korban merasa tidak nyaman Sampai sekarang mengalami trauma.

1. Dokter Tirta Beri Teguran Keras
Kasus ini semakin menjadi sorotan setelah dokter sekaligus figur publik, dr. Tirta, turut Menyajikan tanggapan melalui akun Threads miliknya. Dalam unggahannya, dr. Tirta menyampaikan teguran keras terhadap terapis Gerakan yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut.
dr. Tirta menegaskan bahwa kemampuan mengendalikan diri merupakan hal penting. Apalagi bagi seseorang yang bekerja dalam profesi yang berkaitan dengan sentuhan fisik seperti terapis Gerakan.

Dr. Tirta Bahkan menilai tindakan tidak pantas yang dilakukan dengan mengatasnamakan prosedur perawatan dapat merugikan profesi sport massage secara keseluruhan. Menurutnya, tindakan oknum yang tidak bertanggung jawab berpotensi merusak kepercayaan masyarakat terhadap layanan terapi Gerakan.
Unggahan tersebut kemudian ramai diperbincangkan warganet. Banyak pengguna media sosial menyoroti pentingnya menjaga batasan profesional dan menghormati persetujuan klien dalam setiap prosedur terapi.
“Buat sport therapist, setauku diajarin kok “consent” karena 11/12 ama dokter prinsipnya. Informed consent dan etika. Karena di setiap therapist yg garap atletku, atau di nom klinik tempatku itu Tidak mungkin tidak ada consent,” tulis dr. Tirta di Threads.
“Di nom Bahkan aku memisahkan: cowo ama cowo, cewe ama cewe. Klinik Gerakan lainnya pun setauku menerapkan hal sama. Setiap Saat ada consent ke client/pasien. Kalo emang clientnya lawan jenis, consent dan boundaries Merupakan kunci,” lanjutnya.
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











