JAKARTA — Suara seorang direktur utama terdengar meyakinkan ketika meminta pegawainya Mendukung transaksi perusahaan yang bersifat rahasia. Tidak seperti, orang yang Menyediakan instruksi itu ternyata bukan sang direktur, melainkan penipu yang diduga menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk menirukan suara dan bahkan wajahnya.
Modus tersebut menjadi inti skandal penipuan internasional yang diungkap Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) pada Kamis (5/11/2026). Tiga pria didakwa menjalankan sindikat penipuan berbasis AI yang diduga berhasil mencuri sekitar 129 juta USD AS dari berbagai perusahaan di Amerika Serikat dan negara lainnya.
Ketiga terdakwa Merupakan Jacob Soall (41 tahun), Sharon Hazan (54 tahun), dan Guy Sheetrit (42 tahun). Mereka Dituding memanfaatkan teknologi peniruan suara serta gambar untuk menyamar sebagai pimpinan perusahaan dan pengacara dari firma hukum internasional.
Menurut dokumen dakwaan yang dibuka ke publik di Lembaga Peradilan Distrik Federal Manhattan, New York, sindikat tersebut menjalankan aksinya sejak sekitar Juli 2024 Sampai sekarang Februari 2026. Sasaran mereka mencakup ribuan perusahaan di berbagai negara, dengan korban yang berhasil ditipu meliputi rumah sakit, bank, perusahaan teknologi keuangan, pengelola dana Penanaman Modal, dan produsen makanan hewan.
Penyidik menyebut para pelaku tidak Sangat dianjurkan membobol rekening perusahaan secara langsung untuk mengambil uang. Mereka justru diduga memanipulasi pegawai yang mempunyai kewenangan keuangan Supaya bisa mentransfer dana perusahaan ke rekening yang dikendalikan jaringan penipu.
Kasus ini memperlihatkan ancaman baru dalam kejahatan keuangan digital. Teknologi yang mampu meniru identitas seseorang membuat suara pimpinan, percakapan video, Sampai sekarang komunikasi dari pengacara tidak lagi dapat diterima begitu saja sebagai bukti keaslian sebuah instruksi.
Berawal dari Email Rahasia Mengatasnamakan CEO
Mengikuti dokumen dakwaan federal, sindikat tersebut biasanya memulai aksinya dengan mengidentifikasi pegawai bagian akuntansi atau keuangan yang memiliki kewenangan menyetujui transfer dana bernilai besar.
Setelah menentukan sasaran, pelaku mengirimkan email yang seolah-olah berasal dari direktur utama perusahaan. Pesan tersebut menyebut adanya transaksi keuangan penting yang bersifat rahasia dan membutuhkan bantuan langsung dari pegawai penerima.
Menariknya, email penipuan itu tidak Setiap Saat dikirim melalui saluran komunikasi biasa. Dokumen Lembaga Peradilan menyebut para pelaku memanfaatkan layanan tanda tangan elektronik, termasuk platform seperti DocuSign, untuk membuat permintaan terlihat sebagai bagian dari prosedur Usaha yang sah.
Pegawai kemudian diminta menandatangani perjanjian kerahasiaan atau non-disclosure agreement (NDA). Permintaan ini Memanfaatkan kesan bahwa transaksi yang Di waktu ini Bahkan sedang dibahas merupakan urusan sensitif perusahaan, seperti akuisisi atau pembelian saham.
Seiring berjalannya waktu, pegawai diarahkan untuk menghubungi seseorang yang mengaku sebagai pengacara dari firma hukum internasional. Nama dan identitas pengacara yang digunakan merupakan identitas profesional sungguhan, tetapi komunikasi dilakukan oleh anggota sindikat.
Menurut jaksa, sindikat tersebut sering menggunakan identitas pengacara dari kantor-kantor firma hukum besar yang beroperasi di Eropa. Mereka memanfaatkan reputasi firma hukum tersebut untuk membuat instruksi keuangan tampak resmi.
Rangkaian komunikasi ini menempatkan pegawai dalam situasi yang terlihat masuk akal. Seorang CEO meminta bantuan, dokumen kerahasiaan Sebelumnya disiapkan, dan pengacara dari firma hukum terkenal seolah-olah mengawasi transaksi.
Padahal, menurut dakwaan, seluruh transaksi yang dikemukakan pelaku merupakan rekayasa.
Suara dan Wajah Bos Dipalsukan dengan AI
Bagian paling menentukan dari modus tersebut terjadi ketika pelaku menghubungi pegawai melalui panggilan suara atau video. Dalam percakapan itu, sindikat diduga menggunakan AI untuk menirukan suara dan, dalam Sebanyaknya kasus, gambar pimpinan perusahaan.
Teknologi tersebut membuat pegawai mendengar suara yang menyerupai atasannya sendiri. Pada komunikasi video tertentu, pelaku Bahkan diduga menampilkan representasi visual yang menyerupai sosok direktur utama.
Penyidik menilai peniruan identitas ini menjadi bagian penting untuk mengurangi kecurigaan pegawai. Instruksi transfer uang yang sebelumnya diterima melalui email tampak mendapatkan konfirmasi langsung dari pimpinan perusahaan.
Tidak seperti, komunikasi tersebut Pada dasarnya dilakukan oleh para terdakwa atau anggota jaringan mereka. Pegawai tidak Di waktu ini Bahkan sedang berbicara dengan CEO maupun pengacara yang identitasnya digunakan dalam percakapan.
Setelah pegawai mempercayai suara dan gambar tersebut, sosok yang menyamar sebagai CEO mengarahkannya untuk berkomunikasi lebih lanjut dengan pengacara. Penipu yang menyamar sebagai pengacara kemudian Menyediakan petunjuk transfer dana.
Menurut dakwaan, uang diarahkan ke rekening bank tertentu yang diklaim berkaitan dengan transaksi perusahaan. Kenyataannya, rekening tersebut berada di bawah kendali anggota sindikat.
Dengan Tips ini, pelaku menggabungkan manipulasi psikologis, pemalsuan identitas, dan kecanggihan teknologi AI. Mereka mengeksploitasi hubungan hierarkis perusahaan, ketika pegawai cenderung Menyediakan perhatian besar terhadap instruksi langsung dari pimpinan tertinggi.
Loading…
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











